Lagi asik melamun, tiba-tiba ada telfon masuk, ternyata Uncle Si.
-OnThePhone-
"Halo uncle?" Sapamu
"Halo YN" Balas uncle Si
"Ada apa uncle?" Tanyamu, karna tumben-tumbennya uncle Si menelfonmu
"Ada yang harus ku bicarakan padamu" Jawab uncle Si
"Hm, ok. Silahkan" Balasmu dengan serius
-OnThePhone-
"Halo uncle?" Sapamu
"Halo YN" Balas uncle Si
"Ada apa uncle?" Tanyamu, karna tumben-tumbennya uncle Si menelfonmu
"Ada yang harus ku bicarakan padamu" Jawab uncle Si
"Hm, ok. Silahkan" Balasmu dengan serius
"Hm, kau tau kan, kalau saat ini One Direction sedang naik daun?" Tanyanya
"Ya, aku tau itu" Jawabmu, masih belum bisa menebak arah pembicaraan
"Hm, soal hubunganmu dengan Niall, aku, aku takut, hm, yah, aku takut kalau itu bisa menghambat karirnya, apalagi kalau sampai Directioners tau akan hubungan kalian" Kata uncle Si panjang lebar dengan ragu-ragu dan itu membuat kamu down
"Jadi, aku harus bagaimana?" Tanyamu, bingung dan sedih bercampur menjadi satu
"Hm, maafkan aku, tapi, ku yakin kau tau maksudku dan apa yang harus kau lakukan, sekali lagi, maafkan aku" Katanya, memperjelas
"Baiklah, aku mengerti, akan ku lakukan untuknya" Katamu akhirnya dan langsung menutup telfonnya. Setelah itu, air matamu pun tak bisa kamu tahan lagi, kamu pun menangis sepanjang malam sampai akhirnya kamu tertidur.
<SKIP>
-Keesokkan Harinya-
Kamu pun memutuskan pergi menjauh dari London untuk sementara. Tapi sebelum itu, kamu ingin mengakhiri hubungan kamu dengan Niall.
-Didalam taxi-
-OnThePhone-
"Hi babe, oia, kamu dimana? Aku di depan flat kamu nih, daritadi aku terus mengetuk pintumu dan memanggil namamu, tapi tidak ada jawaban. Kamu sedang berada di luar?" Tanyanya panjang lebar
"Iya, aku sedang berada diluar. Niall, ada yang mau aku omongin sama kamu" Katamu
"Mau diomongin? Kamu lagi dimana? Biar aku kesana" Balasnya
"Tidak usah. Aku cuma mau bilang, aku mau kita putus. Maaf" Katamu dan kamu masih mencoba untuk menahan tangis
"Ha? Ma.. maksud kamu apa? Jangan bercanda deh" Katanya
"Aku serius. Aku mau kita putus" Katamu, menyakinkannya dan detik itu pula air matamu mulai bercucuran
"Tapi, tapi, apa salahku?" Tanyanya, bingung.
"Kamu gak salah. Maafin aku, bye" Katamu mengakhiri pembicaraan serta hubungan kalian. Setelah meletakkan Iphone di sebelahmu, kamu pun menangis tersedu-sedu. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya kamu menangis, sampai akhirnya kamu tiba di tempat tujuanmu.
NB : Sebelum pergi ke luar kota, kamu terlebih dahulu meminta izin untuk cuti kuliah selama satu bulan dengan alasan ada masalah keluarga yang harus diselesaikan.
